Monday, September 4, 2017

Puisi Karya Muhammad Yasin Arief tentang Kondisi Indonesia. Merinding!

(Gambar bersumber dari salafy.or.id)
Apa itu puisi? Yahh kalau menurut pengertian yang saya dapatkan dari si mbah-Gugel, puisi adalah salah satu karya sastra yang berasal dari perasaan yang diungkapkan menggunakan kata-kata indah nan berirama, beritma, bermatra, serta disusun dalam bait-bait lirik atau kalimat yang berisi makna. Puisi mampu menyalurkan perasaan sedih, marah, senang, perasaan jatuh cinta, ataupun menyalurkan kegundahan-nya tentang berbagai aspek kehidupan dari penulis kepada para pembacanya. Puisi yang bagus dapat membuat para pembaca seakan ikut merasakan apa yang penulis rasakan meski keadaan hatinya saat membacanya bisa saja berbeda.

Beberapa bulan yang lalu, saya membaca sebuah puisi yang berdasarkan definisi yang saya simpulkan sepihak tadi, termasuk kedalam kategori puisi yang bagus. Puisi yang merupakan sebuah puisi kenegaraan ciptaan seorang penulis yang hebat ini pertama-tama saya temukan di-repost oleh seseorang di beranda Facebook milik saya tanpa menuliskan siapa penulisnya. Beberapa saat setelah itu, saya kembali menemukan puisi ini kembali di-repost oleh seorang teman di Instagram dan pada saat itulah saya tahu bahwa puisi ini adalah karya seorang penyair bernama Muhammad Yasin Arief. Saat pertama kali membaca, entah lebay atau tidak, tapi saya tiba-tiba lansung merinding. Kurang tau juga tepatnya karena apa, saya bukanlah pengamat puisi professional. Mungkin karena pilihan katanya, atau karena tema-nya, atau karena kondisi saat itu sangat sesuai seperti apa yang tertulis di dalam puisi? Entahlah!
Berikut adalah puisi yang saya maksudkan:


PROKLAMASI BUNG KARNO 2016
ㅤㅤ ㅤㅤ
Bung Karno bangkit dari kubur
Dia haus ingin minum
Kusuguhkan air mineral
Dia hanya bingung tak mau minum
Karena tanah airnya tinggal tanah
Sedang airnya milik Prancis sudah
Kuseduhkan segelas teh celup
Dia hanya termenung tak mau minum
Karena kebun tehnya tinggal kebun
Lahan tebunya tinggal lahan
Gulanya milik Malaysia
Tehnya Inggris yang punya
Lalu kubukakan susu kaleng
Bung Karno hanya menggeleng
Kandang sapinya tinggal kandang
Sedang sapinya milik Selandia
Diperah Swiss dan Belanda
ㅤㅤ ㅤㅤ
Bung Karno bangkit dari kubur
Dia lapar ingin sarapan
Kuhidangkan nasi putih
Dia tak mau makan hanya bersedih
Karena sawahnya tinggal sawah
Lumbung padinya tinggal lumbung
Padinya milik Vietnam
Berasnya milik Thailand
Kusulutkan sebatang rokok
Dia menggeleng tak mau merokok
Tembakau memang miliknya
Cengkehnya dari kebunnya
Tapi pabriknya milik Amerika
ㅤㅤ ㅤㅤ
Bung Karno bingung bertanya-tanya
Sabun pasta gigi, kenapa Inggris yang punya
Toko-toko milik Prancis dan Malaysia
Alat komunikasi punya Qatar dan Singapura
Mesin dan perabotan rumah tangga
Kenapa dikuasai Jepang, Korea dan China
Bung Karno tersungkur ketanah
Hatinya sakit teriris-iris
Setelah tau emasnya dikeruk habis
Setelah tau minyaknya dirampok iblis
Bung karno menangis darah
Indonesia kembali terjajah
Indonesia telah melupakan sejarah
ㅤㅤ ㅤㅤ
Bung Karno membaca Proklamasi
Kami bangsa Indonesia
Dengan ini menyatakan
Ketidak-merdekaan Indonesia
Hal-hal mengenai penindasan
Dan kekuasaan asing
Telah terlaksana sudah lama
Dengan cara seksama
Dan dalam tempo
yang tak dapat dikira-kira
ㅤㅤ ㅤㅤ
Tujuh Belas Agustus
Dua Ribu Enam Belas

ㅤㅤ ㅤㅤ
Muhammad Yasin Arief @em_ya_ 
Malang, 07 Agustus 2016

Saturday, September 2, 2017

Wasit Sepak Bola, dari Pengadil sampai Penentu Pertandingan

Mark Clattenburg, salah satu wasit dari Liga Inggris
(gambar diambil dari talksport.com)
Sepak bola adalah sebuah topik yang tidak akan pernah habis untuk diperbincangkan. Maklum saja, dewasa ini sepak bola menjadi olahraga yang paling banyak ditonton di seluruh dunia. Dalam sejumlah tulisan disebutkan bahwa sepak bola-lah olahraga dengan jumlah penggemar terbanyak di dunia yaitu sekitar 3.5 miliar orang. Hampir di setiap sudut dunia, olahraga ini juga mejadi favourite untuk dimainkan baik oleh anak-anak maupun orang dewasa. Silahkan tanyakan pada anak-anak manapun apakah mereka tahu tentang pemain-pemain sepak bola professional seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, ataupun Neymar Jr, mungkin tidak akan ada satupun dari mereka yang akan menjawab tidak tahu. Karena memang, olahraga inilah yang paling diminati. Ada begitu banyak hal yang bisa kita perbincangkan menyangkut olahraga yang satu ini.

Saat berbicara tentang sepak bola, pada umumnya orang-orang akan membahas tentang klub favourite masing-masing, pertandingan-pertandingan besar, pemain-pemain dengan skill mantap dan kece, bahkan isu-isu transfer yang sedang hangat. Namun pada tulisan ini, kita akan lebih banyak berbicara tentang sesuatu diluar klub atau pemain sepak bola itu sendiri, tapi memiliki pengaruh yang sama pentingnya dalam permainan, yaitu wasit.

Wasit tentu adalah peran yang sangat vital dalam sebuah pertandingan sepak bola. Baik buruknya kualitas wasit yang memimpin pertandingan bisa berpengaruh terhadap baik buruknya jalan pertandingan itu sendiri. Tanggung jawab yang dipegang wasit sebagai pengadil pertandingan sangatlah besar bagi olahraga ini. Saat wasit membuat satu saja keputusan yang kontroversial, jalannya sebuah pertandingan bisa lansung berubah 180 derajat dan sang wasit pun akan mendapatkan cacian, bully-an, bahkan hadiah manis lemparan botol dari para penonton yang anarkis.

Tentu masih hangat di ingatan para pecinta sepak bola di dunia bagaimana pertandingan leg ke-2 babak 16 besar Liga Champions yang mempertemukan antara Barcelona FC melawan Paris Saint Germain FC di Camp Nou dimana kepemimpinan wasit saat itu menjadi kontroversi dan cenderung “memenangkan” Barcelona. Saat itu, Paris Saint Germain (PSG) sudah unggul 4 angka dari hasil leg sebelumnya. Namun secara tidak terduga, Barcelona berhasil lolos ke babak selanjutnya setelah menang 6-1 pada pertandingan tersebut. Kontroversi-kontroversi wasit yang memimpin pertandingan tersebut pun menjadi perhatian. Mulai dari tendangan penalty yang seharusnya tidak diberikan kepada Barcelona, penalty untuk PSG yang justru tidak diberikan, serta beberapa keputusan kontroversial lainnya membuat PSG harus sekali lagi mengubur mimpi memenangkan kompetisi paling prestisius di Eropa tersebut. Pertandingan tersebut merupakan salah satu bukti, bagaimana kepemimpinan wasit bisa berpengaruh pada olahraga yang indah ini.

Pengaruh wasit, selain dapat mengubah hasil dari suatu pertandingan secara lansung, juga dapat mengubahnya secara tidak lansung. Pengaruh lansung yang saya maksud adalah ketika wasit memberikan keputusan-keputusan kontroversial yang berpengaruh ke skor pertandingan seperti memberikan atau tidak memberikan penalty, menganulir gol yang sah, mengesahkan gol offside, atau yang lainnya. Sementara pengaruh tidak lansung yang saya maksud adalah seperti memberikan kartu merah, pelanggaran-pelanggaran yang tidak seharusnya, atau keputusan kontroversial lainnya yang tidak lansung mengubah papan skor. Pada kasus Barcelona tadi, wasit memberikan keputusan-keputusan kontroversial yang berpengaruh baik secara lansung maupun tidak lansung. Pinalti yang diberikan memperkecil devisit gol yang harus dikejar Barcelona, pinalty untuk PSG yang tidak diberikan menggagalkan PSG untuk menambah selisih keunggulan mereka, serta keputusan-keputusan kontroversial lainnya mempengaruhi mental para pemain PSG sehingga permainan mereka menjadi tidak seperti yang seharusnya. Hal ini tentu saja membuat para pemain PSG tersiksa, juga tentu saja membuat para pendukung PSG diseluruh dunia menjadi gemas, entah gemas ingin apa, yang jelas gemas.

Masih banyak pertandingan-pertandingan lain di Eropa yang dimana para penonton lebih ingat tentang kepemimpinan wasit yang agak tidak biasa daripada hasil atau pencetak gol di pertandingan itu sendiri. Bagi saya sendiri, saya ingat pertandingan-pertandingan seperti Chelsea vs Barcelona 2009, MU vs Real Madrid 2013, Barcelona vs Arsenal 2011, dan beberapa pertandingan lainnya yang dimana wasitnya agak kurang apalah-apalah. Bahkan ada yang menyebutkan salah satu dari pertadingan-pertandingan tersebut sebagai The Biggest Rape of Football. Di Indonesia sendiri, tak terhitung banyaknya keputusan-keputusan kontroversial dari wasit yang merubah jalannya pertandingan. Tak sedikit wasit di Indonesia yang mendapatkan perlakuan yang “sangat menyenangkan” seperti tendangan ataupun pukulan dari para pemain yang merasa kecewa dengan keputusan yang mereka buat. Hahahaha, ironis dan lucu juga sebenarnya. Tapi Yup, This is Indonesia, bung. Ego sebagian manusia-manusia disini lebih tinggi daripada apapun termasuk peraturan. Persetan dengan peraturan, yang penting hati plong. Hahaha.

Wasit tentu adalah bagian penting dari sepak bola yang harus mendapatkan perhatian lebih. Bahkan di olahraga lain, peran wasit juga sama pentingnya dan harus pula mendapatkan perhatian. Wasit yang berkualitas tentu akan menghasilkan pertandingan yang bermutu dan enak untuk disaksikan. Maka dari itu kualitas wasit harus ditingkatkan untuk mendapatkan kualitas pertandingan yang lebih baik pula. Mungkin itulah salah satu sebab mengapa PSSI memilih untuk menggunakan beberapa jasa wasit asing dalam putaran paruh kedua Liga Gojek Traveloka tahun ini. Itu adalah langkah yang bagus menurut saya asalkan kualitas wasit asing berada diatas wasit-wasit lokal. Dengan begitu, wasit-wasit lokal Indonesia bisa belajar bagaimana memimpin pertandingan dengan lebih baik. Wasit memang butuh lebih diperhatikan. Terlebih posisi wasit adalah salah satu yang sangat rentan untuk diserang oleh para mafia bola bejat nan tidak tahu malu yang ingin mencoba menentukan hasil akhir dari sebuah pertandingan tertentu. Pertandingan-pertandingan yang telah saya sebutkan sebelumnya, entah ada mafia atau tidak, yang jelas keputusan wasit telah sangat merugikan pihak yang dirugikan. Yaiyalah, masa merugikan pihak yang diuntungkan? Hahahahaha.. Peace wasit! J

Tuesday, August 29, 2017

Mayweather Menang Lawan McGregor, Mengejutkan atau Wajar?

Foto Mayweather dan McGregor setelah pertandingan.
(Gambar diambil dari mmafighting.com)
Baru-baru ini dunia menjadi ramai memperbincangkan pertarungan maha dahsyat antara petinju Floyd Mayweather Jr melawan petarung UFC Conor McGregor. Bagaimana tidak? Pertarungan ini bukan hanya pertarungan antara dua orang petarung professional yang mencoba untuk saling mengalahkan, melainkan pertarungan gengsi antara dua cabang bela diri yang paling diminati masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Floyd Mayweather adalah juara tinju dunia yang dalam rekornya mencatatkan kemenangan sempurna; 49 main dengan 49 kemenangan, sementara disisi lain, Conor McGregor adalah petarung Mixed Martial Art (MMA) yang pernah mencatatkan rekor sebagai pemegang dua sabuk juara dunia UFC. Bisa dikatakan, pertarungan antara kedua orang ini adalah pertarungan antara Boxing vs Mixed Martial Art.

Pertarungan ini sendiri diadakan di T-Mobile Arena, Nevada, America pada tanggal 26 Agustus 2017 yang lalu. Pertarungan bertajuk Super-Fight yang mempertemukan dua pemegang juara pada olahraga bela diri yang berbeda ini tentunya sangat dinanti-nantikan oleh semua orang, termasuk saya sendiri. Pada akhirnya, Conor McGregor, sang juara dunia tarung bebas UFC harus mengakui keunggulan lawannya setelah pada ronde ke-10 Mayweather berhasil menang secara TKO. Ini pastinya sangat mengecewakan bagi orang-orang yang sedari awal mendukung McGregor, termasuk saya sendiri. Tapi belakangan saya sadar bahwa ini bukanlah kejutan besar. Kenapa demikian? Tidak lain karena pertarungan itu sendiri adalah pertarungan tinju. 

McGregor mungkin saja sangat percaya diri akan menang. Tidak ada salahnya. Dia memang sangat kuat. Buktinya saat berhadapan dengan juara dunia Featherweight UFC Jose Also, dia bisa meng-KO juara dunia tersebut hanya dalam hitungan detik walaupun Jose Also sendiri adalah petarung yang tak terkalahkan dalam 10 tahun. Sama halnya saat menantang juara dunia Lightweight UFC Eddie Alvarez, McGregor terlihat sangat mendominasi dan bahkan membuat Eddie Alvarez bernasib sama dengan Aldo serta berhasil mengawinkan dua sabuk dari dua devisi UFC yaitu Featherweight dan Lightweight. Dia memang sangat kuat. Tapi sekali lagi, mereka bertarung tinju dan tinju sangat jauh berbeda dengan MMA. Sebagai petarung MMA, Conor McGregor terbiasa menggunakan berbagai macam serangan untuk mengalahkan lawannya. Dari memukul, menendang, menyikut, mengunci, bahkan membanting, semua diperbolehkan. Sedangkan di tinju, hanya boleh memukul. Tentu ini sangat merugikan bagi McGregor yang strategi bertarungnya bergantung dari variasi serangan-serangan yang berbeda-beda tadi.

Dalam beberapa bulan terakhir sebelum pertarungan akbar tersebut, McGregor memang telah banyak melakukan latihan-latihan tinju bersama timnya. Di akun media sosialnya, dia bahkan pernah mengunggah sebuah video dimana dia memukul jatuh lawan latih-tandingnya waktu itu, Paulie Malignaggi, yang merupakan mantan juara tinju versi WBA Welterweight. Tapi ujung-ujungnya toh dia tetap kalah. Kenapa? mungkin karena Floyd Mayweather bukanlah petinju sembarangan. Dia belum pernah terkalahkan dalam karir professionalnya. Bahkan melawan petinju sekelas Juan Manuel Marquest, Shane Mosley dan Manny Pacquiao, dia tetap tak terhentikan. Jika dipikirkan lagi, bagaimana mungkin Conor McGregor yang sebelumnya bukan petinju professional bisa mengalahkan orang yang telah menghabiskan hidupnya di dunia tinju, yang bahkan tak bisa dikalahkan oleh legenda seperti Oscar Dela Hoya? Mungkin ada peluang, tapi pastilah sangat kecil. Tentunya, Mayweather juga tau bahwa image dunia tinju sedang dipertaruhkan. Kalau dia kalah, orang-orang bisa saja menganggap tinju tidak ada apa-apanya. Orang-orang pasti berpikiran seperti itu jika orang yang tidak pernah terkalahkan selama karirnya kemudian tumbang ditangan orang yang bahkan bukan petinju. Maka dari itu, dia pasti bersungguh-sungguh untuk menang. Terbukti, dia bisa menang dengan TKO atas juara dunia UFC tersebut meski dalam beberapa tahun terakhir dia tidak pernah meng-TKO lawannya. Mengejutkan, tapi juga sangat wajar.

Akan tetapi, dunia patut mengapresiasi apa yang dilakukan Conor McGregor. Mengganggu singa yang sedang tertidur bukanlah perkara yang mudah. Hanya orang-orang hebat dan berambisi besar yang berani melakukannya, dan Conor McGregor adalah salah satunya. Bahkan saat kalah, dia telah mencetak sejarah. Dan juga, dia bisa tertidur pulas sekarang. Walau kalah, McGregor berhak mendapatkan hadiah sebesar $ 100m atau sekitar 1,3 T jika dirupiahkan dari hasil pertandingan bersejarah tersebut. Sekarang, sedikit atau banyak, dia pasti sudah sadar betapa diatas orang hebat seperti dirinya, masih banyak orang-orang yang jauh lebih hebat, setidaknya di bidang mereka masing-masing. Saat ini di dunia tinju, Mayweather-lah rajanya. McGregor pasti juga akan menang telak melawan Mayweather jika mereka bertarung di Octagon, kandang McGregor. Entahlah, bisa saja tidak. Semoga Mayweather mau mecobanya kapan-kapan. Hehehe :-)

Saturday, May 10, 2014

Jalan-Jalan ke Luar Negeri (Day 2)





Hari kedua. Hari itu, hari kedua kami berada di luar negeri. Aku terbangun dari tidurku yang pulas dengan wajah yang jauh dari kata ganteng. Sudah pukul 05.30 saat itu, tapi suasana Kuala Lumpur masih gelap. Udara yang keluar dari pendingin ruangan kala itu serasa masuk dan menembus kedalam tulangku. Segara aku beranjak dari tempat tidur dan mematikannya. Tidak lama kemudian, Muflih dan Tobo terbangun, juga dengan wajah yang jauh dari ganteng. Kuperhatikan Muflih beranjak ke kamar mandi. Tak lama berselang, dia keluar dengan wajah serta tangan yang basah. Aku menebak kalau dia baru saja berwudhu. Dia kemudian melaksanakan shalat dengan menghadap ke arah yang ditunjukkan oleh sebuah penanda di dalam kamar kami, arah kiblat tentu saja. Beberapa menit setelah Muflih selesai melaksanakan shalat, suara adzan berkumandang di kota Kuala Lumpur. Waktu shalat subuh baru saja tiba.

“Shalat apako tadi kau ner?” tanyaku pada Muflih.
“Shalat subuh.” Jawabnya polos.
“Barusan masuk waktu shalat subuh ner.  Belumpi masuk waktu subuh tadi waktumu shalat.” Kata Tobo yang dilanjutkan dengan tawa yang keras.
Aku ikut tertawa. Muflih mungkin lupa kalau zona waktu Kuala Lumpur lebih lambat dari Makassar. Ada-ada saja dia.
Setelah shalat dan sarapan, kami berkumpul di loby hotel untuk kemudian berangkat ke tempat tujuan kami hari itu dengan sebuah bus yang telah disediakan khusus oleh pihak travel. Bus dengan kapasitas 40 orang dengan corak jingga dan biru tua. Di dalamnya, telah siap seorang supir keturunan India dengan tubuh agak besar. Kak Sultan dari pihak travel memberitahu kami nama supir itu. Namanya ‘Bang Kanan’. Dialah orang yang akan membawa kami berkeliling Malaysia dan Singapura nanti. Walaupun orangnya besar dan cukup menakutkan, aku tau dia orang baik. Aku bisa tau dari caranya tersenyum padaku saat aku melangkahkan kakiku kedalam bus itu.
Ada beberapa tempat yang kami datangi pada hari pertama tour kami. Pemberhentian pertama adalah Universitas Putera Malaysia. Kampus yang luas wilayahnya mungkin lebih luas daripada kampung halamanku di Soppeng. Yang kedua adalah Istana agung Malaysia. Mungkin lebih tepatnya, halaman depan Istana Agung Malaysia. Kami hanya bisa melihat dari luar dan tidak diizinkan masuk. Tentu saja! Ini adalah Istana Agung. Hanya orang-orang penting yang bisa masuk kesana dan turis seperti kami tidak termasuk kedalam jajaran orang penting. Setelah Istana Agung, pemberhentian berikutnya adalah KBRI di Malaysia. Di dalam KBRI itu, kami bertemu dengan wakil duta besar Indonesia untuk Malaysia. Dia menjelaskan kepada kami sedikit tentang hubungan kedua Negara. Kami mendengarkan dengan seksama apa yang beliau katakan. Kesempatan ini tidak boleh disia-siakan. Setelah materi selesai diberikan dan setelah sesi foto-foto, kami kemudian berangkat ke tempat tujuan kami berikutnya.
Di dalam bus, aku, Muflih, dan Tobo memutuskan untuk memulai misi kami pada pemberhentian kami selanjutnya, The Twin Tower Petronas. Tempat ini adalah tempat yang sempurna untuk berfoto. Bagaimana tidak? Ini adalah ikon Kota Kuala Lumpur sekaligus Negara Malaysia yang terkenal di seluruh dunia. Ini adalah tempat yang tercatat di dalam The Guinness Book of record sebagai menara kembar tertinggi di dunia. Foto yang kami dapatkan disana pastilah sangat berharga.
Setelah sampai di Menara Kembar Petronas, kami memulai misi kami. Kami sangat bersemangat saat perencanaan. Namun tiba-tiba menjadi sedikit nervous ketika sudah saatnya memulai aksi.
“Ner, itu sana ada bule. Kau yang tanyaki nah, saya yang fotoko.” Kata Muflih sesaat sebelum kami memulai misi.
“Biar saya saja yang fotoko ner. Kaumo yang tanyaki!” Kataku karena malu.
“Kenapa tegang sekaliko semua kah?” Sahut Tobo.
“Kaumo pale yang tanyaki!” Jawabku dan Muflih bersamaan. Tobo bertingkah seolah dia berani. Tapi aku tau makhluk seperti apa dia. Dia juga pasti tidak berani sama halnya dengan kami
“Ahh, kenapa saya? Kaumo.” Kata Tobo. Dugaanku terbukti benar.
“Ahhh! Takut tongjiko pale juga.” Sahut Muflih lagi.
Pada akhirnya, aku lah yang bertugas mengambil gambar, Muflih bertugas meminta bule itu agar bersedia berfoto bersama kami, dan Tobo dengan tugas yang paling penting diantara tugas-tugas kami; menemani Muflih. Bule itu bukanlah satu-satunya orang asing yang berhasil kami ajak berfoto. Kami juga berhasil mendapatkan foto bersama seseorang bule keturunan Arab. Saat itu, kami bertukar tugas. Muflih yang mengambil gambar, aku yang meminta foto, dan Tobo masih dengan tugasnya yang paling penting; kali ini, menemaniku.
“Excuse me Sir! May we take a picture with you? Just one picture, sir.” Kataku pada target kami dengan sedikit perasaan ragu kalau struktur bahasa yang aku gunakan sudah benar atau tidak.
“yes yes.” Jawabnya datar.
Muflih pun lansung memotret kami. Aku, Tobo, dan orang keturunan Arab itu pun mengeluarkan gaya terkeren dan senyum termanis yang kami punya.
“Thank you, sir! By the way, where do you come from?” kataku coba melanjutkan percakapan.
“Thank you! Thank you!” jawabnya sebelum pergi meninggalkan kami.
Aku heran kenapa orang itu tidak menjawab pertanyaanku. Mungkinkah dia takut kami akan merampas barang-barang miliknya, makanya dia bergegas pergi? Tidak tidak! Alasan itu terdengar kejam untuk kami. Aku pun memilih menyimpulkan perginya orang itu dengan alasan kedua; dia tidak mengerti apa yang aku katakan. Tak sampai disitu, kami juga berhasil mendapatkan foto bersama orang Korea, India, Malaysia, dan orang asing lainnya.
            Setelah mendapatkan beberapa foto dari beberapa orang asing yang kami temui di sana, kami kembali ke bus dan lansung menuju ke tempat pemberhentian kami berikutnya; Sungai Wang. Itu bukanlah sebuah sungai yang dialiri dengan air serta terdapat ikan dan katak yang menjijikkan di dalamnya. Tapi itu adalah sebuah tempat untuk membeli souvenir dan barang-barang lainnya. “Sungai Wang’ hanyalah sebuah nama yang diberikan untuk tempat itu dengan filosofi bahwa wang (uang) akan selalu mengalir layaknya air disana.
Aku membeli beberapa souvenir untuk keluarga dan teman-temanku di Indonesia. Setelah itu, aku berkeliling lagi untuk mencari sebuah tas khusus untuk kekasihku. Tas itu sudah dia pesan sebelum aku berangkat. Untuk itu, aku tidak boleh pulang tanpa tas itu. Aku mengelilingi tempat itu hampir setengah jam tapi tidak satupun stand toko yang aku temui menjual tas yang aku cari. Aku mulai lelah, kakiku mulai sakit, dan wajahku mulai mengeluarkan keringat.
“ya, ayo semua kumpul di bus!” teriak kak Agung dari pihak Travel.
Pemberitahuan dari Kak Agung telah berhasil membuat suasana hatiku semakin kacau. Aku belum menemukan tas yang aku cari. Aku merasa gagal mengemban tugas dari seseorang yang sangat istimewa. Aku tau ini bukanlah sesuatu yang bagus. Dalam hati, aku menyesal untuk tidak berusaha lebih keras lagi untuknya. Tapi, sudahlah! Penyesalan memang selalu datang terlambat, yang datang duluan itu DP motor. Lagipula, masih ada hari esok. Semoga esok aku bisa menemukan tas yang aku cari di pemberhentian kami selanjutnya; negara asal pesebakbola Moh. Ridwan yang pernah bermain untuk Arema Malang, Singapura.

Sunday, March 16, 2014

Jalan-Jalan ke Luar Negeri (day 1)

-->

Hari pertama. Bersama beberapa orang yang tidak aku kenal disekitarku, aku berdiri di salah satu tempat di kawasan Bandara Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Hari itu cuaca dingin di Antartika, panas di Gurun Sahara, dan cerah serta tidak ada tanda-tanda akan turun hujan di sekitaran Makassar. Aku menunggu dua orang teman baikku; Tobo, pria asal Takalar yang tidak terlalu tinggi, dan Muflih, pria dari Gowa yang banyak disukai cewek-cewek karena wajahnya yang lumayan ganteng. Mereka belum datang sampai saat itu padahal kami berjanji akan berkumpul di tempat itu sebelum jam 12 siang waktu setempat. Aku mencoba menebak kenapa batang hidung mereka belum terlihat padahal jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 12.30 saat itu. Aku berpikir, apa mungkin mereka terjebak cuaca dingin yang ekstrim? Tidak tidak! Ini bukan Antartika. Atau mungkin mobil mereka tidak mampu menembus badai pasir? tidak mungkin! Ini bukan Gurun Sahara. Satu-satunya alasan yang mungkin adalah mereka terjebak macet. Aku tau karena ini Makassar.
Dalam keadaan bosan, aku mendengar suara seorang wanita memanggil namaku. “ehh nak Marwan” katanya. Aku berbalik dan melihat. Dia wanita parubaya, umur sekitaran 40 sampai 50 tahun, berpakaian rapi dengan jilbab. Aku kenal wanita itu. Dia adalah ibu dari temanku Muflih. Aku nyatakan ini sebagai suatu pertanda, pertanda bahwa Muflih sudah tiba di tempat itu. Aku menanyakan keberadaan Muflih pada ibunya.
“Dimanai Muflih bu?” kataku. Aku memilih menggunakan kata ‘bu’ sebagai panggilan daripada kata ‘tante’.
“Adaji tadi pergi sama itu temanta yang kecil yang sering datang ke rumah” katanya.
Dari dua ciri-ciri yang ibu Muflih sebutkan, terutama dengan adanya kata ‘kecil’ yang dia gunakan, aku tau kalau dia pergi bersama Tobo, temanku baikku yang lainnya. Ternyata mereka sudah tiba.
“Kesanaka pale dulu cariki bu.” Kataku pada ibu Muflih sebelum pergi mencari mereka berdua.
Tidak terlalu lama mencari, mereka berhasil aku temukan sedang duduk dan mengobrol dengan rombongan. Rombongan yang aku maksud adalah rombongan mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris dari Universitas Islam Negeri Makassar. Itu adalah universitas tempat kami kuliah beberapa tahun terakhir. Kami adalah rombongan turis yang akan melakukan tour ke dua negara tetangga; Malaysia dan Singapura. Tour yang kami lakukan ini bersifat study tour, dimana kami akan mengunjungi beberapa universitas di kedua Negara tersebut. Dan tentunya kami juga akan mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan terkenal di kedua Negara itu.
Aku, Muflih, dan Tobo punya misi tersendiri dalam tour ini. Kami bertiga ingin mendapatkan sebanyak mungkin foto bersama bule, orang India, Malaysia asli, China, arab, serta orang-orang asing lainnya yang kami temui di kedua negara tersebut. Kami juga sudah menyiapkan jersey-jersey tim sepak bola kesukaan kami untuk kami pakai saat berfoto di tempat-tempat terkenal sebut saja Menara Kembar Petronas, Patung Merlion, dan lain-lain. Muflih dengan jersey Chelsea-nya, Tobo dengan jersey Arsenal-nya, dan aku dengan jersey Mancheser United tentu saja. Misi yang aneh memang. Tapi itulah kami. Kami suka yang aneh-aneh. Bahkan wajah kami pun cukup aneh, terutama Muflih dan Tobo. Ya, aku juga.
Pukul 15.30, pihak travel meminta kami untuk masuk ke dalam bandara dan melakukan proses registrasi. Kami pun berpamitan pada sanak saudara yang mengantar kami ke bandara. Muflih berpamitan pada ibu dan ayahnya, Tobo berpamitan pada pamannya, dan aku berpamitan pada ibuku melalui SMS. Ibu dan ayahku memang mengantarku ke bandara, tapi mereka sudah pulang lebih cepat mengingat mereka akan menempuh empat jam perjalanan lagi untuk sampai di rumahku di Soppeng. Tak lupa, aku juga berpamitan pada kekasihku, juga melalui SMS. Sedih rasanya mengetahui bahwa tak ada seorangpun dari keluargaku yang menemaniku saat aku akan berangkat, tapi itu tidak menyurutkan semangatku. Aku berpikir, jika Caca Handika bisa sukses dan menjadikan penderitaannya yang masak sendiri, makan sendiri, cuci baju sendiri, dan tidur pun sendiri menjadi sebuah lagu berjudul ‘angka satu’, mungkin aku juga bisa menjadikan apa yang aku alami kedalam sebuah lagu berjudul ‘angka dua’, atau ‘angka tiga’, atau ‘angka empat’, atau lima, atau enam, dan seterusnya.
Setelah menyelesaikan beberapa proses registrasi, kami akhirnya bisa terbang dengan damai menuju Kuala Lumpur pada pukul 16.30 WITA. Aku duduk bersebelahan dengan Tobo, sedangkan Muflih duduk beberapa baris di depan kami. Kami benar-benar menikmati perjalanan, walaupun aku agak sedikit takut karena itu adalah kali pertama aku naik pesawat terbang. Untung ada Najib, lelaki dengan kulit hitam dan rambut keriting khas Ambon, yang membuat suasana kala itu menjadi menyenangkan. Dia bernyanyi layaknya orang gila di dalam pesawat itu. Aku tertawa terbahak-bahak saat pesawat tiba-tiba goyang dan dia berkata
“Aduh! Ini pilotnya pasti pilot baru. Soalnya dia bawa pesawat masih suka masuk-masuk jalanan berlubang.” Katanya.
Aku merasa sangat senang saat itu. Selain karena candaan Najib yang sangat lucu, aku merasa senang karena ternyata temanku Tobo bukanlah satu-satunya orang gila yang tersisa setelah perang dunia 2 berakhir.
            Di dalam kamar hotel setelah kami sampai di Malaysia, aku, Muflih, dan Tobo bertiga berunding tentang apakah malam itu kami akan keluar dan menikmati suasana malam kota Kuala Lumpur atau kami akan tetap berada di hotel dan beristirahat. Aku dan Tobo memilih beristirahat sementara Muflih memilih keluar.
            Satu hal yang sangat tidak menyenangkan saat berada di luar negeri adalah mahalnya biaya SMS dan telepon ke Indonesia. Aku sangat ingin mengabari keluargaku di rumah dan juga kekasihku bahwa aku sudah tiba di Malaysia dengan selamat. Tapi karena biayanya yang sangat mahal, aku memilih mengabari keluargaku saja. Mudah-mudahan kekasihku bisa mengerti dan aku yakin dia bisa.
“Bilang memangka bawa laptopmu ner.” Tobo menyela lamunanku.
“Iyo ner, menyesalka nda bawaki.” Kataku.
Benar saja, jika seandainya aku membawa laptop kala itu, paling tidak aku bisa log-in ke social media dan mengabari kekasihku tentang keadaanku. Namun sudahlah! Memang penyesalan selalu datang terlambat, yang datang duluan itu DP motor. Daripada terus menyesali sesuatu yang sudah terjadi, aku memilih untuk tidur agar esok hari aku memiliki cukup tenaga untuk menjalani tour kami.